BAB I
PENNDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Organ reproduksi membentuk apa yang dikenal
sebagai traktus genitalis yang berkembang setelah traktus urinarius. Kelamin
laki-laki maupun perempuan sejak lahir sudah dapat dikenal, sel produksi
berkembang di sebelah depan ginjal yang tumbuh sebagai koloni-koloni sel
kemudian membentuk kelenjar reproduksi. Perkembangan sifat terjadi pada umur
10-14 tahun. Perubahan penting terjadi pada usia remaja ketika jiwa dan raganya
menjadi matang. Dalam pubertas anak tumbuh dengan cepat dan mendapatkan bentuk
tubuh yang khas dengan jenisnya. Dengan pubertas ini wanita masuk dalam masa
reproduktif, artinya masa mendapat keturunan yang berlangsung kira-kira 30
tahun. Pada laki-laki dewasa pubertas dimulai dengan perubahan suara lebih
berat, pembesaran genitalia eksterna, tampilnya bulu di atas tubuh dan muka dan
tumbuhnya jakun.
Pada pria pubertas sering terjadi ereksi akibat rangsangan seksual dan menghasilkan sperma sehingga terjadi mimpi basah sebagai akibat dari mimpi erotik. Hal itu mendorong hubungan seksual yang bertujuan untuk melanjutkan keturunan.
Pada pria pubertas sering terjadi ereksi akibat rangsangan seksual dan menghasilkan sperma sehingga terjadi mimpi basah sebagai akibat dari mimpi erotik. Hal itu mendorong hubungan seksual yang bertujuan untuk melanjutkan keturunan.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui struktur dan bagian-bagian pada sistem reproduksi pria.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi Sistem Reproduksi Pria
Eksternal
2.1.1. Penis
Penis adalah organ seks utama yang letaknya di antara kedua
pangkal paha. Penis mulai dari arcus pubis menonjol ke depan berbentuk bulat
panjang. Dari pangkal ke ujung berbentuk cendawan dengan kepala penis seperti
kepala cendawan tetapi bagian ujungnya agak meruncing ke depan. Pada saat
istirahat, foto penis mengecil dan lembek sehingga kelihatan tergantung tidak
berdaya.
Tetapi, pada saat terangsang penis akan menegang dan keras dan disebut ereksi. Ereksi yang penuh menyebabkan penis berdiri tegak ke depan atau ke atas dengan seluruh permukaan menjadi keras seperti tongkat atau batang yang tidak bisa dibengkokkan. Kondisi ini disebut ereksi penis yang normal dimana ukuran penis yang mengalami ereksi penuh berarti penis tidak bisa dibengkokkan atau ditekuk.
Tetapi, pada saat terangsang penis akan menegang dan keras dan disebut ereksi. Ereksi yang penuh menyebabkan penis berdiri tegak ke depan atau ke atas dengan seluruh permukaan menjadi keras seperti tongkat atau batang yang tidak bisa dibengkokkan. Kondisi ini disebut ereksi penis yang normal dimana ukuran penis yang mengalami ereksi penuh berarti penis tidak bisa dibengkokkan atau ditekuk.
Panjang penis orang Indonesia waktu lembek dengan mengukur dari pangkal dan ditarik sampai ujung sekitar 9 sampai 12 cm. Sebagian ada
yang lebih pendek dan sebagian lagi ada yang lebih
panjang. Pada saat ereksi yang penuh, penis akan memanjang dan membesar
sehingga menjadi sekitar 10 cm sampai 14 cm. Pada orang barat (caucasian) atau
orang Timur Tengah lebih panjang dan lebih besar yakni sekitar 12,2 cm sampai
15,4 cm. Penis terdiri dari:
1.
Akar
(menempel pada dinding perut)
2.
Badan
(merupakan bagian tengah dari penis)
3.
Glans
penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).
Bagian utama daripada penis adalah bagian
erektil atau bagian yang bisa mengecil atau melembek dan bisa membesar sampai
keras. Bila dilihat dari penampang horizontal, penis terdiri dari 3 rongga yakni
2 batang korpus kavernosa di kiri dan kanan atas, sedangkan di tengah bawah
disebut korpus spongiosa. Kedua korpus kara kavernosa ini diliputi oleh
jaringan ikat yang disebut tunica albuginea,
satu lapisan jaringan kolagen yang padat dan di luarnya ada jaringan yang
kurang padat yang disebut fascia buck. Korpus kavernosa terdiri dari
gelembung-gelembung yang disebut sinusoid. Dinding dalam atau endothel sangat
berperan untuk bereaksi kimiawi untuk menghasilkan ereksi. Ini diperdarahi oleh
arteriol yang disebut arteria helicina. Seluruh sinusoid diliputi otot polos
yang disebut trabekel. Selanjutnya sinusoid berhubungan dengan venula (sistem
pembuluh balik) yang mengumpulkan darah menjadi suatu pleksus vena lalu
akhirnya mengalirkan darah kembali melalui
vena dorsalis profunda dan kembali ke tubuh


Penis dipersyarafi oleh 2 jenis syaraf yakni
syaraf otonom (para simpatis dan simpatis) dan syaraf somatik (motoris dan
sensoris). Syaraf-syaraf simpatis dan parasimpatis berasal dari hipotalamus menuju
ke penis melalui medulla spinalis (sumsum tulang belakang). Khusus syaraf
otonom parasimpatis ke luar dari medulla spinalis (sumsum tulang belakang) pada
kolumna vertebralis.
2.1.2
Scrotum
Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang
mengelilingi dan melindungi testis. Skrotum juga bertindak sebagai sistem
pengontrol suhu untuk testis, karena agar sperma terbentuk secara normal,
testis harus memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu
tubuh. Skrotum mempunyai dua
kompartemen yang terdiri dari jaringan fibrosa. Setiap kompartemen berisi testis, epididimis,
dan bagian vas deferens merupakan
organ-organ seks internal pria. Dalam menjalankan fungsinya, skrotum dapat
merubah ukurannya. Bila suhu udara dingin, skrotum akan mengerut dan
menyebabkan testis lebih dekat dengan tubuh dengan demikian testis merasa lebih
hangat. Sebaliknya, pada cuaca panas skrotum akan membesar dan kendur.
Akibatnya, luas permukaan skrotum meningkat dan panas dapat dikeluarkan.
2.1.3 Testis
Testis disebut juga gonad jantan. Alat ini
jumlahnya sepasang, bentuknya bulat telur. Testis tersimpan di dalam suatu
kantong yang disebut skrotum.
Kantong ini terletak di luar rongga perut. Fungsi testis adalah sebagai alat
untuk memproduksi sel- sel sperma dan juga memproduksi hormon kelamin jantan
yang disebut testoteron.
Di dalam testis banyak terdapat pembuluh-pembuluh halus disebut tubulus seminiferus. ada tubulus seminiferus terdapat otot kremaster yang apabila berkontraksi akan mengangkat testis mendekat ketubuh. Bila
suhu testis akan diturunkan, otot kremaster akan berelaksasi dan testis akan
menjauhi tubuh. Fenomena ini dikenal dengan refleks kremaster.
Selama masa pubertas, testis
berkembang untuk memulai spermatogenesis. Spermatogenesis pada mamalia akan lebih efisien dengan suhu lebih rendah
dari
suhu tubuh (< 37°C). Ukuran testis bergantung pada produksi sperma
(banyaknya spermatogenesis), cairan
intersisial, dan produksi cairan dari sel sertoli. Pada umumnya, kedua testis tidak sama
besar. Dapat saja salah satu terletak lebih rendah dari yang lainnya. Hal
inidiakibatkan perbedaan struktur anatomis pembuluh darah pada testis kiri dan kanan.
Testis normal berukuran
rata-rata 4×3×2,5 cm. Organ ini diliputi oleh suatu lapisan yang disebut dengan
tunika albuginea, oleh suatu septa-septa jaringan ikat testis dibagi menjadi
250 lobus. Pada bagian anterior dan lateral testis dibungkus oleh suatu lapisan
serosa yang disebut dengan tunika vaginalis yang meneruskan diri menjadi
lapisan parietal, lapisan ini langsung berhubungan dengan kulit skrotum.4 Di
sebelah posterolateral testis berhubungan dengan epididimis, terutama pada pool
atas dan bawahnya. Testis terdapat di dalam skrotum yang merupakan lapisan
kulit yang tidak rata dimana di bawahnya terdapat suatu lapisan yang disebut
tunika dartos yang terdiri dari serabut-serabut otot.

2.1.4 Epididimis (tempat pematangan sperma)
Epididimis adalah struktur berbentuh “koma” yang berada di batas posterolateral testis. Merupakan saluran berkelok kelok tidak teratur dengan panjang sekitar 600 cm. Duktus berawal dari puncak testis (kaput epididimis) dan setelah melewati jalan berliku-liku duktus ini berakhir sebagai ekor epididimis dan kemudian menjadi vas (duktus) deferen. Epdidimis adalah lokasi maturasi sperma.
Epididimis adalah struktur berbentuh “koma” yang berada di batas posterolateral testis. Merupakan saluran berkelok kelok tidak teratur dengan panjang sekitar 600 cm. Duktus berawal dari puncak testis (kaput epididimis) dan setelah melewati jalan berliku-liku duktus ini berakhir sebagai ekor epididimis dan kemudian menjadi vas (duktus) deferen. Epdidimis adalah lokasi maturasi sperma.
2.2 Anatomi
sistem Reproduksi Pria Internal
2.2.1 Vas Deferens
Vas
deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran lurus yang
mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis, masing-masing
panjangnya 45 cm. Vas deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya
terdapat di dalam kelenjar prostat. Vas deferens berfungsi sebagai saluran
tempat jalannya sperma dari epididimis menuju kaantung semen atau kantung mani
(vesikula seminalis). Tidak seperti epididimis, vas deferens tidak mempunyai
pelapis epitel bersilia karena sekresi vesikula seminalisdan prostata merupakan
medium untuk pengangkutan spermatozoa. Vas deferens ini merupakan saluran yang
dapat diikat dan dipotong pada saat vasektomi.
2.2.2 Vesikula Seminalis
Vesikula seminalis merupakan
kantong-kantong kecil yang berbentuk tidak teratur, panjangnya 5 cm dan
terletak diantara dasar vesikula urinaria dan rektum. Fungsi vesikula seminalis
adalah mensekresi cairan yang kental berwarna kekuningan yang ditambahkan pada
sperma untuk membentuk cairan seminal.
2.2.3 Ductus Ejaculatorius
Masing-masing
ductus ejaculatorius dibentuk dari persatuan vas deferens dengan ductus
seminalis. Ductus ejaculatorius panjangnya kira-kira 2,5 cm. Ductus
ejaculatoris berjalan melewati prostat dan bertemu dengan uretra. Dengan
demikian ductus ejaculatoris ini menghubungkan vas deferens dengan uretra.
2.2.4 Prostata
Prostata
merupakan struktur yang berbentuk kerucut yang panjangnya 4 cm. Lebarnya 3cm
dan tebalnya 2cm dengan berat kira-kira 8gr. Biasanya ukurannya sebesar walnut
dan akan membesar sejalan dengan pertambahan usia. Prostata mengelilingi bagian
atas uretra dan terletak dalam hubungan langsung dengan cervix vesicae
urinariae. Prostata tersusun atas jaringan kelenjar dan serabut-serabut otot
involunter dan berada didalam kapsul fibrosa. Jaringan otot prostata berfungsi
untuk membantu dalam ejakulasi. Sekresi prostata di produksi secara
terus-menerus dan di eksresikan kedalam urin. Setiap hari di produksi kie-kira
1ml, tetapi jumlahnya tergantung dari kadar testosteron, karena hormon ini yang
merangsang sekresi tersebut.
2.2.5 Glandula Bulbourethralis
(Cowper)
Kelenjar kecil kira-kira sebesar
kacang kapri, berwarna kuning, terletak tepat dibawah prostat. Saluran kelenjar
ini panjangnya kira-kira 3 cm, dan bermuara ke dalam urethra sebelum mencapai
bagian penis. Sekresi dari Glandula Bulbourethralis ini ditambahkan ke dalam
cairan seminal. Glandula Bulbourethralis mengeluarkan sedikit cairan sebelum
ejakulasi dengan tujuan untuk melumasi penis sehingga mempermudah masuk ke
dalam vagina. Bila sekresi prostata sendiri mempunyai pH 6,6 maka pH cairan
seminal secara keseluruhan sama dengan darah yaitu 7,5.
2.2.6 Cairan Seminal
Cairan Seminal adalah cairan tempat
berenangnya spermatozoa. Cairan ini memberi makan (nutrien) kepada spermatozoa
dan membantu motalitas spermatozoa. Setelah berjalan dari vesicula seminalis
dan ductus seminalis. Maka cairan ini berjalan melalui ductus ejaculatorius ke
urethra, disini ditambahkan sekresi prostata dan sekresi dari Glandula
Bulbourethralis. Akhirnya cairan seminal ini diejakulasikan selama rangsangan
seksual.
2.3 Produksi Dan Jalannya Spermatozoa
2.3.1 Spermatogonesis
Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa
disebut spermatogenesis.
Spermatogenesis terjadi di dalam di dalam testis, tepatnya pada tubulus
seminiferus. Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal dengan
melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang mana bertujuan untuk
membentuk sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus yang
kemudian disimpan di epididimis. Dinding tubulus seminiferus tersusun dari
jaringan ikat dan jaringan epitelium germinal (jaringan epitelium benih) yang
berfungsi pada saat spermatogenesis. Pintalan-pintalan tubulus seminiferus
terdapat di dalam ruang-ruang testis (lobulus testis).
2.3.2 Proses Pembentukan Sperma
Pembentukan sperma berlangsung di dalam testis. Proses pembentukan atau pemasakan sperma ini disebut spermatogenesis.
Spermatogenesis berawal dari sel spermatogonia yang terdapat pada dinding tubulus seminiferus. Setiap spermatogonia yang mengandung 23 pasang kromosom, mengalami pembelahan mitosis menghasilkan spermatosit primer yang juga mengandung 23 pasang kromosom. Spermatosit primer ini kemudian mengalami pembelahan meiosis pertama menghasilkan 2 spermatosit sekunder yang haploid. Kemudian tiap spermatosit sekunder membelah lagi secara meiosis (meiosis kedua) menghasilkan 2 spermatid yang juga haploid. Spermatid kemudian berdiferensiasi menjadi sperma yang telah masak. Sperma ini bersifat haploid. Perhatikan Gambar 10.3.
Pembentukan sperma berlangsung di dalam testis. Proses pembentukan atau pemasakan sperma ini disebut spermatogenesis.
Spermatogenesis berawal dari sel spermatogonia yang terdapat pada dinding tubulus seminiferus. Setiap spermatogonia yang mengandung 23 pasang kromosom, mengalami pembelahan mitosis menghasilkan spermatosit primer yang juga mengandung 23 pasang kromosom. Spermatosit primer ini kemudian mengalami pembelahan meiosis pertama menghasilkan 2 spermatosit sekunder yang haploid. Kemudian tiap spermatosit sekunder membelah lagi secara meiosis (meiosis kedua) menghasilkan 2 spermatid yang juga haploid. Spermatid kemudian berdiferensiasi menjadi sperma yang telah masak. Sperma ini bersifat haploid. Perhatikan Gambar 10.3.
Sperma yang telah masak mempunyai sifat motil, karena sperma dilengkapi mikrotubulus. Sperma yang matang ini mempunyai tiga bagian, yaitu bagian kepala, bagian tengah (mid piece), dan bagian ekor. Perhatikan Gambar 10.4 dan 10.5.
1) Bagian kepala mengandung inti sel (nukleus) yang haploid dan bagian ujungnya mengandung akrosom yang berisi enzim hialuronidase dan proteinase yang berperan membantu menembus lapisan yang melindungi sel telur.
2) Bagian tengah mengandung mitokondria yang berperan dalam pembentukan energi yang digunakan untuk pergerakan ekor sperma.
3) Bagian ekor, sebagai alat gerak sperma agar dapat mencapai ovum
Seorang pria mulai memproduksi sperma apabila testisnya telah menghasilkan hormon testosteron. Hormon inilah yang akan memacu testis untuk memproduksi sperma. Dimulainya produksi hormon testosteron menandakan pria tersebut mengalami pubertas. Pubertas ditandai dengan munculnya ciri-ciri sekunder pada pria. Seperti pada wajah tumbuh kumis, jambang, tumbuh rambut di ketiak dan di sekitar alat kelamin. Otot-otot tubuh lebih kekar, dan suara terdengar lebih berat karena jakun mulai tumbuh.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Penis adalah organ seks utama yang letaknya
di antara kedua pangkal paha. Penis mulai dari arcus pubis menonjol ke depan
berbentuk bulat panjang. Dari pangkal ke ujung berbentuk cendawan dengan kepala
penis seperti kepala cendawan tetapi bagian ujungnya agak meruncing ke depan.
Penis terdiri dari:
Ø Akar (menempel pada dinding
perut)
Ø Badan (merupakan bagian
tengah dari penis)
Ø Glans penis (ujung penis yang
berbentuk seperti kerucut).
Anatomi sistem Reproduksi Pria Eksternal:
Penis, Scrotum, Testis, Epididimis.
Penis, Scrotum, Testis, Epididimis.
Anatomi sistem Reproduksi Pria Interternal:
Vas Deferens, Vesikula Seminalis, Ductus Ejaculatorius, Prostata, Glandula Bulbourethralis (Cowper), Cairan Seminal.
Vas Deferens, Vesikula Seminalis, Ductus Ejaculatorius, Prostata, Glandula Bulbourethralis (Cowper), Cairan Seminal.
3.2
Saran
Seperti kata pepatah
”Tak ada gading yang tak retak”. Dalam pembuatan makalah ini tentu masih banyak
kekurangan, untuk itu kami mengharapkan saran dari para pembaca demi
kesempurnaan di masa yang akan datang.
DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar